MEMULAI DARI KECIL Mewujudkan masyarakat…

MEMULAI DARI KECIL

Mewujudkan masyarakat Indonesia gemar mencintai perpustakaan atau katakanlah gemar membaca memang sulit dan tidak seperti menyuruh mereka untuk mengikuti lomba hiburan, memasak, atau mencicipi sebuah masakan. Dimanapun saya melihat perpustakaan-perpustakaan milik pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan baik formal ataupun non formal sepi dari pengunjung. Padahal sebagian besar masyarakat kita tidak buta huruf. Mereka adalah golongan terpelajar atau pernah mengenyam dunia pendidikan meskipun hanya lulusan SD, SMP, ataupun SMA. Saya melihat fenomena ini terjadi akibat dari pembiasaan dan kebiasaan mereka hanya menomorsatukan televisi sebagai hiburan mereka. Informasi yang ditransfer dan ditangkap oleh mereka hanyalah sekedar sebuah tayangan hiburan semata tanpa sekali ada informasi penting yang bisa menciptakan daya kreativitas dalam hidup mereka. Sehingga pantas jika minat baca dan perpustakaan hanya sebagai gedung mewah yang berisi buku-buku tanpa pernah terjamah oleh manusia kecuali petugas pustakawannya saja.
Memulai dari kecil adalah judul yang saya pilih sebagai dari pengalaman kami di sebuah lembaga pendidikan formal yang membuat dan mengembangkan sebuah program yang mewujudkan insan-insan gemar membaca dan insyaAllah mencintai perpustakaan sebagai bagian dari hidupnya. Mewujudkan masyarakat cinta baca dan cinta perpustakaan ada banyak jalan, salah satunya adalah dari bangku sekolah. Maksud dan tujuan memulai dari kecil adalah menanamkan kepada anak (siswa SD) sebagai calon anggota masyarakat kelak untuk memulai mencintai membaca sehingga akhirnya mencintai perpustakaan sebagai sumber bacaan dan ilmu. Memulai dari kecil juga diartikan membuat program kegiatan sederhana yang diusahakan selalu kontinyu dalam pelaksanaannya.

Memulai dari Sekolah
Sekolah adalah lembaga formal yang bisa dan tepat untuk menciptakan pembiasaan masyarakat gemar membaca. Obyek atau sasaran utama disini adalah siswa. Kegiatan pembiasaan ini dimulai dari siswa SD jenjang kelas bawah dan dilanjutkan siswa SD jenjang kelas atas.
Untuk kegiatan siswa kelas bawah yakni kelas 1 dan 2 dilaksanakan dua kegiatan utama. Pertama adalah usaha memasukkan materi pelajaran keperpustakaan ke dalam kurikulum jam belajar mereka. Artinya untuk mengenalkan bagaimana cara mereka meminjam buku, buku apa saja yang boleh mereka pinjam, dan buku apa saja yang hanya boleh mereka baca di tempat, dijelaskan dalam konteks pelajaran keperpustakaan. Pengetahuan baru ini tujuannya adalah pengenalan mereka pada dunia perbukuan dan keperpustakaan. Walaupun dalam seminggu hanya 1 jam pelajaran tetapi cara ini dipandang efektif karena secara tidak langsung mereka akan dengan mudah dan cepat mencintai perpustakaan sebagai bagian utama dalam studinya.
Kegiatan kedua adalah upaya agar siswa dapat meminjam buku sebanyak-banyaknya di perpustakaan. Setelah mereka mengenal perpustakaan, mulailah langkah selanjutnya yakni meminjam buku sebanyak-banyaknya. Dengan bantuan wali kelas masing-masing, siswa diupayakan memiliki target minimal peminjaman buku dalam sepekan. Katakanlah dalam sepekan siswa harus bisa meminjam minimal 15 buku, boleh lebih dan tidak boleh kurang. Tentu kegiatan ini harus didukung dengan jumlah buku yang disediakan oleh sebuah perpustakaan sekolah dan kesadaran penuh wali kelas maupun guru pengajarnya akan manfaat yang akan diperoleh dikemudian hari. Di perpustakaan kami, memang didesain jumlah bukunya harus seimbang atau dua kali lipat lebih dengan jumlah siswa. Jumlah siswa SD di lembaga kami sebanyak 1.156 siswa berarti jumlah buku yang ada sebanyak minimal 2.312 buah buku.
Target peminjaman ini janganlah diartikan berlebihan, artinya apakah siswa SD kelas rendah membaca semua buku yang dipinjam tersebut? Ukuran kualitas jangan diperdebatkan terlebih dahulu, tetapi yang lebih penting adalah ukuran kesenangannya terhadap perpustakaan akan melunturkan anggapan tersebut. Lambat laun mereka akan tertarik dengan membaca buku apalagi buku bacaan tersebut disertai gambar ilustrasi yang sangat menarik.
Pada jenjang kelas berikutnya siswa tidak lagi dikenalkan dan dipaksa untuk sekedar meminjam buku di perpustakaan dengan target tertentu. Tetapi lebih kepada menumbuhkan kesadaran mereka akan pentingnya belajar dengan bahan bacaan lain sebagai sumber ilmu dan inspirasinya. Setiap pekan, siswa jenjang kelas atas (kelas 3-6) diberi batasan meminjam 14 buah buku dan disetiap akhir pekan diberi keleluasaan peminjaman buku per-siswa 4 buah buku. Artinya dalam sehari siswa harus meminjam 2 buah buku, dan di akhir pekan diperbolehkan meminjam 4 buah buku. Dan semuanya buku yang dipinjam harus dibaca.
Pemaksaan ini harus dibuktikan dengan siswa meresume sebuah buku yang telah dibacanya. Hasil resume buku tersebut akan dipresentasikan pada saat jam membaca yang hanya ada satu jam pelajaran di setiap minggunya. Presentasi resume di depan kelas menyebabkan siswa lain bertanya seputar isi buku yang dipinjamnya sebagai topic ringkasannya. Kadangkala topic ini menarik karena siswa audiensnya yang tertarik terus mengejar dan memberi beberapa pertanyaan kepada siswa penyaji. Nah saya kira pembiasaan ini menjadi modal awal anak-anak memulai sesuatu hal baru untuk menemukan pentingnya membaca dan berkunjung ke perpustakaan.
Tidak sampai disini, berikutnya pada jenjang kelas tingkat atas (kelas 6) sebagai prasyarat purna studi, mereka harus berani dan mempresentasikan sebuah karya tulis ilmiah. Tentu karya tulis ini modal awalnya adalah harus membaca buku, disamping sebelumnya mereka telah diberi materi seputar cara menulis karya tulis ilmiah di sela-sela proses belajarnya. Tetapi karena sudah terbiasa, maka mereka merasa seperti hal yang mudah tanpa menjadi beban. Yang lebih penting karya tulis tersebut dipresentasikan di depan guru dan orang tua wali murid.

Melanjutkan di Rumah
Sebagai kelanjutan kegiatan ini, di rumah pembiasaan siswa membawa buku pulang ke rumah walaupun kadang-kadang mereka tidak benar-benar membaca semua, akan berpengaruh pula terhadap pola baca dan belajar para orang tua wali murid. Mengapa bisa dikatakan begitu? Gampang saja jawabannya, sebagai orang tua, semua harus mampu dicontoh dan memberi contoh terbaik bagi putra-putrinya. Anak gemar membaca harus juga diimbangi dengan kegiatan orang tua yang suka membaca juga. Apalagi anak-anak ini disekolah diwajibkan membuat resume sebuah buku, logikanya sedikit maupun banyak orang tua pasti mendampingi dan membantu mengajarinya. Otomatis setiap minggu orang tua membaca sebuah buku yang dibawa anaknya. Kebiasaan ini terus dilakukan setiap minggu selama anaknya masih sekolah di kelas 3-6 (4 tahun). Belum lagi kebiasaan ini ditularkan kepada saudara, tetangga, handai taulan, maka kebiasaan kecil ini yang dimulai dari paksaan berakibat menjadi kebiasaan dan pembiasaan yang luar biasa pada masyarakat kita. Andaikata semua siswa mampu menularkan kebiasaan membaca kepada kedua orang tuanya, berarti ada sekitar 2.312 orang yang suka membaca buku per hari. Diharapkan minat baca dan volume kunjungan ke perpustakaan-perpustakaan juga akan ada peningkatan yang tajam dan signifikan.
Dikemudian hari pembiasaan dan kebiasaan meminjam dan membaca buku dilakukan anak-anak ini ketika mereka tumbuh dewasa, sungguh luar biasa dampak yang akan dirasakan bila semua ini akan terjadi. Mereka secara sengaja maupun tidak sengaja menularkan pembiasaan ini pada anak-anak mereka, cucu-cucu mereka dan seterusnya. Apakah tidak mungkin di tahun-tahun mendatang, masyarakat Indonesia akan semakin cinta membaca dan mengunjungi perpustakaan sebagai jantungnya ilmu pengetahuan. Semua ini karena sentuhan kecil kami sebagai upaya memperbaiki kualitas sumber daya masyarakat Indonesia. Semoga kegiatan ini bisa ditiru di lembaga-lembaga pendidikan lain, sehingga bisa mewujudkan masyarakat perpustakaan cerdas di setiap tahunnya.

Tinggalkan komentar

Filed under status

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s